Sunday, November 18, 2012

filsafat bahasa by i wayan suryasa


I Wayan Suryasa
1290161009 


A. Pengantar
q  Perkembangan pemikiran filsafat abad XX memiliki ciri yang sangat mononjol yaitu meletakkan bahasa sebagai pusat perhatian para filsuf.
q  Atomisme logis misalnya berupaya untuk menjelaskan realitas dunia melalui bahasa.
q  Problema inilah yang mendorong filsuf Eropa untuk mengembangkan pemikiran filsafatnya dengan mendasarkan bahasa dalam proses “Hermeneutika”.
Target filsuf hermeneutik:
q  Filsuf hermeneutik juga mendasarkan pada filsafat bahasa biasa namun mereka berupaya untuk memahami realitas kehidupan manusia.
q  Filsuf hermeneutik menawarkan suatu cara lain untuk melihat hakikat bahasa, yaitu bahasa dilihat sebagai cara kita memahami kenyataan dan cara kenyataan tampil pada kita. Dalam perspektif hermeneutik, bahasa atau lebih tepat disebut die sprachlichkeit dilihat sebagai pusat gravitasi.
Ungkapan Yunani
q  manusia dipandang sebagai “zoo logon echon”,yang memiliki “logos”;
q  Menurut filsafat Yunani hakikat bahasa adalah suatu potensi untuk mengatasi keterbatasan diri itu, jadi manusia sebagai suatu produk kultural yaitu suatu “konstruk linguistik”,oleh karena itu bahasa tidak dapat dilihat saja sebagai  “medium”.
q  kenalilah dirimu!” ((Γνῶθι σεαυτόν, gnôthi seautón) Aristotele.
q  Filsuf-filsuf hermeneutik:
q  Friederich Schleiermacher,
q  Wilhelm Dilthey,
q  Martin Heidegger,
q  Hans Georg Gadamer,
q  Jurgen Habermas,
q  Paul Ricoeur
q  dan Jacques Derrida.
q  B. Friederich Schleiermacher (1768-1834)
q  “Semenjak seni berbicara dan seni memahami berhubungan satu dengan lain, maka berbicara hanya merupakan sisi luar dari berpikir, dan hermeneutik adalah merupakan bagian dari seni berpikir itu sehingga bersifat filosofis”.( Schleiermacher. 1977:77)
B1. Prinsip proses Hermeneutika
Pemahaman adalah suatu rekontruksi yang bertolak dari ekspresi yang telah diungkapan dan mengarah kembali ke suasana kejiwaan di mana ekspresi tersebut diungkapan.
q  momen tata bahasa;
q  momen kejiwaan;
Sedangkan prinsip yang menjadi tumpuan rekonstrunksi bidang tata bahasa dan bidang kejiwaan diistilahkan dengan lingkaran hermeneutika.
Menurut Schleiermacher hakikatnya adalah sesuatu yang terformulasikan melalui bahasa. Tugas hermeneutika adalah melintasi keterbatasan bahasa guna mencapai proses batin yaitu makna yang tercover melalui bahasa tersebut.
objektive geist
Oleh karena itu Schleiermacher berangkat dari analisis karya teks, sehingga bahasa merupakan persoalan yang fundamental dalam hermeneutika, yang berarti lingkaran-lingkaran hermeneutika tersebut harus mampu menembus formulasi bahasa.
C. Wilhelm Dilthey (1833-1911)
Wilhelm Dilthey was the founder of German historicism.
C1. Pemikiran Filosofis dan karya
q  "Introduction to the sciences of the spirit" He reaffirms the importance of historicity in the discovery of the influence of social causes about  the formation of man and the world, and supports the primacy and autonomy of the facts in the history.
q  "The contribution to the study of individuality" Dilthey defines that the object to understanding is the individuality, which is studied through the use of types and their internal relations.
q  "Studies for the foundation of the human sciences“;“The construction of the historical world“.
The pillars of the historical reason are the life of the individual compared with the other subjects, the dynamic or structural connection  the centrality of each structure.
q   "Essence of Philosophy" philosophy must confront the mysteries of the world and of life as well There are three models of intuition of the world:
q  the first is realism, which is part of positivism,
q  the second objective idealism,
q  the third is the idealism of freedom.
q  C2. Bahasa dalam Proses Hermeneutika
q  Tugas hermeneutika menurut Ditley adalah untuk melengkapi teori pembuktian validitas universal interpretasi agar mutu sejarah tidak tercemari oleh pandangan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.
q  as arrive at universal conclusions.
q  Berdasarkan prinsip-prinsip hermeneutika sebagaimana dikemukakan Dilthey tersebut Nampak pada kita bahwa bahasa memiliki peranan yang sentral, karena proses dan dimensi hidup manumpahami dan diinterpretasi melalui kacamata bahasa, yang diungkapkan oleh Dilthey bahwa keselurhan dapat dipahami melalui bagian-bagiannya, sedangkan bagian-bagiannya dapat dipahami melalui keseluruhannya.
q  D. Martin Heidegger (1889-1976)
q  Heidegger maintained that philosophy, in the process of philosophizing, had lost sight of the being it sought. He advocated a return to the practical being in the world, allowing it to reveal, or "unconceal" itself as concealment.
q  “Being and Time” is considered one of the most important philosophical works of the 20th century. Heidegger's influence has been far reaching, from philosophy to theology, deconstructionism, literary theory, architecture, and artificial intelligence.
D1. Pemikiran filosofis
Heidegger's philosophy is founded on the attempt to conjoin what he considers two fundamental insights:
q   the first is his observation that philosophy has attended to all the beings that can be found in the world but has forgotten to ask what "being" itself is.
q  The second intuition: experience is always already situated in a world and in ways of being.
q  This is the basis of Heidegger's "existential analytic", as he develops it in Being and Time. In Being and Time, Heidegger criticized the abstract and metaphysical character of traditional ways of grasping human existence as rational animal, person, man, soul, spirit, or subject. Dasein, then, is rather understood by Heidegger to be the condition of possibility for anything like a philosophical anthropology. Dasein, according to Heidegger, is care. Dasein is an essentially tD2. Hermeneutika
q  Heidegger is concerned, hermeneutics is ontology; it is about the most fundamental conditions of man's being in the world. Yet Heidegger's turn to ontology is not completely separated from earlier hermeneutic philosophies.
q  This reflects back on Heidegger's definition of terms such as understanding, interpretation, and assertion.
q  -Spinoza, Ast, and Schleiermacher.
q  emporal being.







































Hans Georg Gadamer
Secara etimologis, kata hermeneutika berasal dari kata kerja Yunani hermeneuo yang berarti mengartikan, mengintepretasikan, menafsirkan,menerjemahkan. Baru dalam abad 17 dan ke 18 istilah ini mulai dipakai untuk menunjukkan ajaran tentang aturan-aturan yang harus diikuti dalam mengerti danmenafsirkan dengan tepat suatu teks dari masa lampau, khususnya kitab suci danteks-teks klasik. Sedangkan dalam bahasa inggrisnya hermeneutics yang berarti mengungkapkan pikiran-pikiran seseorang dalam kata-kata. Dari beberapa makna ini dapat disimpulkan bahwa hermeneutik adalah usaha atau proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti.
Gadamer menekankan, bahwa mengerti mempunyai struktur lingkaran. Maksudnya, agar seseorang dapat mengerti, maka sudah harus ada pengertian dan untuk mencapai pengertian, haruslah bertolak dari pengertian. Mudahnya, untuk mengerti suatu teks, sebelum itu telah ada pengertian tertentu tentang apa yang dibicarakan dalam teks itu. Tanpa hal tersebut, tidak mungkin seseorang memperoleh pengertian tentang teks tersebut. Jadi dengan membaca teks tersebut, prapengertian terwujud dalam pengertian yang sungguh-sungguh. Proses itulah yang disebut sebagai lingkaran hermeneutika oleh Heidegger dan Gadamer. Meski begitu, lingkaran sudah terdapat pada taraf yang paling fundamental, yang menandai keberadaan seseorang. Atau, mengerti tentang dunia bisa menjadi mungkin, jika telahada prapengertian tentang dunia dan diri kita sendiri, yang memungkinkan keberadaan kita.
Hakikat Bahasa
Orang yang mampu menjembatani jurang antara dua bahasa, memberi titk terang yang penting. Terjemahan bagaikan interpretasi dan penerjemahnya, seperti juga pada hermeneut, akan menggunakan bahasa untuk menentukan bahasa. Sebagaimana disebutkan bahwa tugas hermeneutik adalah terutama memahami teks, maka pemahaman itu sendiri mempunyai hubungan yang fundamental dengan bahasa. Kita menumbuhkan di dalam bahasa kita sendiri unsur-unsur penting dari pemahaman, sehingga para pembicara asli (native speaker) tidak akan gagal untuk menangkap nuansa-nuansa bahasanya sendiri. Memang kita akui juga memindahkan konsep dalam bahasa yang satu ke bahasa yang lain bukanlah perkara yang gampang. Kita ambil contoh kata pain (bahasa Inggris). Dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang dengan tepat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang dimaksud dengan kata Pain. Maka dicari istilah dalam bahasa serumpun yang lazim. Untuk itu, kata pain (Inggris) lebih tepat diterjemahkan nyeri (bahasa Sunda).
Gadamer menegaskan bahwa interpretasi/terjemahan akan tepat bila pembacanya mengalami suatu kehalusan dan irama bahasanya yang teratur. Dengan kata lain terjemahan itu akan indah sekali bila tidak setia pada bahasa aslinya dan bila setia sering terjemahan itu tidak indah lagi. Artinya terjemahan yang baik tidak menurut kata-perkata (letterlet) tetapi disesuaikan dengan lagak ragam bahasa sendiri. Dalam berbicara, hermeneutik adalah bagaikan terjemahan. Melalui bahasa kita tidak hanya melakukan interpretasi atas sebuah teks atau dokumen tertulis saja melainkan juga benda-benda yang bukan bahasa seperti patung, komposisi musik, lukisan-lukisan, dsb.
Bahasa dan Sistem Tanda
Karena bahasa merupakan the concrete expression of ‘form of life’ or ‘tradition’ (ekspresi kongkret dari kehidupan atau tradisi), maka bahasa menjadi titik sentral dalam proses pemahaman (understanding/verstehen). Menurut Gadamer, “mengerti” tidak mungkin dapat terlaksana tanpa bahasa. Karena “mengerti” bukan saja dilakukan dalam memahami teks-teks masa lampau, tetapi merupakan sikap paling fundamental dalam eksistensi manusia, maka dapat disimpulkan bahwa bahasa mempunyai relevansi ontologis. “Mengerti” sama dengan mengadakan percakapan atau dialog dengan yang ada, suatu percakapan di mana sungguh-sungguh terjadi sesuatu. Gadamer menegaskan bahwa masalah hermeneutik bukan penguasaan yang benar terhadap bahasa, tetapi pemahaman yang tepat terhadap sesuatu yang terjadi melalui media bahasa. Kaitannya dengan proses pemahaman, Gadamer menegaskan hanya melalui bahasalah wujud (baca: makna) bisa disingkapkan.
Berbicara tentang bahasa, Gadamer sering menekankan bahwa bahasa tidak terutama mengekspresikan pemikiran, tetapi mengekspresikan objek itu sendiri. Menurutnya, tidak ada perkataan yang dapat mengungkapkan suatu objek secara tuntas. Hal ini terjadi bukan karena keterbatasan bahasa, tetapi karena keberhinggaan (baca: keluasan) subjek manusia. Selanjutnya, Gadamer juga menjelaskan bahwa bahasa lebih dari sekadar suatu sistem tanda. Sebab, objek dan kata tidak dapat dipisahkan. Di antara keduanya terdapat kesatuan yang begitu erat, sehingga mencari suatu kata sebetulnya tidak lain daripada mencari kata yang seakan-akan melekat pada benda. Demikian pula, bahasa dan pemikiran pun membentuk suatu kesatuan yang tak terpisahkan.
Bahasa Sebagai Pengalaman Dunia
Bahasa merupakan medium dan fokus dari heurmeneutika. Oleh karena itu, hermeneutika adalah contoh paradigmatis dari pemahaman, sedangkan pengalaman hermeneutis adalah eksemplar dari kehidupan di dalam dunia sebagaimana yang disingkapkan bahasa. Bahkan, Gadamer telah menemukan kenyataan bahwa fungsi bahasa sebagai penunjuk barang-barang adalah arah yang terbalik. Titik berangkat seharusnnya dari die sache selbst. Bahasa adalah pengalaman dunia. Manusia hidup di dalam suatu dunia berkat bahasa. Di dalam bahasa, dunia tampil. Pengalaman (welterfahrung) yang bersifat kebahasaan adalah mutlak, melampaui segala relativitas dan hubungan di mana berbagai realitas dapat ada. Gadamer menyatakan, ”...filsafat hermeneutika memahami dirinya sendiri bukan sebagai posisi mutlak sebuah pengalaman, melainkan sebagai jalan pengalaman itu. Hal ini menegaskan bahwa tidak terdapat prinsip yang lebih tinggi dari pada mengusahakan diri tetap terbuka untuk berbicara dengan yang lain”.(Kaelan, 2002:217)
Gadamer menyatakan, pengalaman memiliki penggabungan dialektis ”tidak dalam pengetahuan tetapi dalam keterbukaan pengalaman, yang lahir dari ruang bebas pengalaman”. Jelasnya, pengalaman disini tidak dimaksudkan untuk beragam pengetahuan informatif yang menjaga ini atau itu. Dialektika model Gadamer ini terjadi di dalam pengetahuan hermeneutis itu sendiri yang jadi eksemplar dari pengalaman manusia secara umum dengan dunia. Pengalaman hermeneutis terjadi di dalam bahasa dan berlangsung di dalam proses percakapan dengan ”teks” yang hakikatnya adalah linguistik. Untuk mengungkapkan dengan cara lain perbedaan dia dengan filsafat logos, Gadamer merumuskan bahwa dalam dialektika sesuatu telah ”terjadi”, sementara, menurut filsafat logos sesuatu itu ”ditemukan/disingkap” (revealed). Contohnya, ketika seorang penafsir mengahadapi suatu teks, atau ketika seorang sejarawan menghadapi tradisi, kedua belah pihak saling bertanya-jawab. Di dalam permainan inilah terjadi dialektika sebuah peristiwa, sehingga disitu ada sesuatu yang terjadi dan muncul. Adapun di dalam filsafat logis, dialektika antara kedua belah pihak dianggap mampu menemukan atau menyingkap sesuatu di dalam dirinya sendiri  (sintesis), kendati sebelumnya sesuatu itu sudah eksis. (Inyiak Ridwan Muzir, 2006:43)
Struktur Spekulatif
Bahasa adalah entitas yang terbatas, namun hal itu bukan karena keanekaragaman yang ditimbulkan oleh bahasa, akan tetapi karena bahasa selalu berkembang dan tidak punya kepastian arti secara mutlak, bahasa selalu “menjadi”. Gadamer menyatakan secara interinsik bahwa bahasa mengandung struktur-struktur spekulatif. Struktur yang dimaksud oleh Gadamer menunjuk pada karakteristik kaca cermin. Spekulatif yang dimaksud diambil dari bahasa latin speculum yang berarti cermin. Aktivitas bercermin menandakan adanya pantulan yang sama dengan objek, akan tetapi pantulan itu bukanlah realitas yang sebenarnya melainkan hanya sebuah refleksi atau penampakan semata. Dalam hal ini Gadamer setuju dengan Aquinas yang mengatakan bahwa kata memiliki sifat seperti cermin, ungkapan sebuah kata dapat dilihat untuk menunjukkan objek atau realitas yang ingin ditunjuk oleh kata tersebut. Dapat dilihat bahwa strukur spekulatif bahasa merupakan anti tesis dari sikap dogmatis terhadap bahasa. Proses pembahasaan bukanlah merupakan asas final, tidak ada pengakuan atau sikap dogmatis, sehingga bahasa atau kata merupakan hal yang selalu terbuka untuk ditafsirkan.
Gadamer menganalisis keterkaitan antara bahasa dengan realitas, yakni bahasa merupakan dasar bagi pengalaman hermeneutik. Gadamer mengungkapkan bahwa bahasa termasuk non-instrumental, ia bukanlah alat atau media bagi manusia dalam mengungkapkan sesuatu dan bahasa memilki struktur spekulatif. Bahasa adalah media bagi penampakan realitas untuk mengungkapkan dunia. Bahasa terbuka dan berdialog dengan tradisi sehingga terbuka pemahaman yang lebih luas. Namun bahasa menurutnya tetap terbatas karena hanya menampakkan diri dari realitas dan bukan being of reality of it self. Bahasa adalah entitas terbatas tapi juga tidak terbatas yaitu dalam menyingkap makna dan terbuka terhadap interpretasi menuju pemahaman baru.
Bahasa Sebagai Pusat Hermeneutika
Gadamer menjelaskan permasalahan bahasa dalam buku Wahrheit und methode bahwa proses mengerti tidak akan pernah terlepas dari unsur bahasa. Bahasa bukan hanya sebuah proses pengenalan terhadap teks-teks masa lalu tetapi merupakan perwujudan eksistensi manusia. Bagi Gadamer, bahasa merupakan aspek dari pengalaman hidup manusia, dari pikiran dan dari pemahaman. Bahasa bukanlah merupakan fakta empirik, melainkan sebuah prinsip, sebuah perantara pengalaman hermeneutik (die mitte). Ada menampakkan diri kepada manusia, berwujud bahasa yang diungkapkan lewat percakapan hermeneutis. Kees Bertens mengutip perkataan Gadamer tentang relevansi ontologis bahasa yang sering menjadi perdebatan dalam buku Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, yaitu “Sein, das verstanden warden kann, its Sprache” yang berarti Being that can be understood is language.
Gadamer memaparkan bahwa bahasa mengungkapkan tentang realitas dunia, bahasa tidak masuk dalam realitas subjektif manusia yang menghalangi hubungan manusia dengan realitas. Ia juga mengungkapkan bahwa bahasa tidak akan pernah dapat mengungkapkan segala sesuatu dengan tepat dan tuntas. Hal ini terjadi bukan karena keterbatasan bahasa, melainkan karena adanya aspek keberhinggaan subjektif manusia. Menurutnya bahasa bukan hanya merupakan alat komunikasi, dan bukan hanya berupa sistem tanda seperti yang banyak dibahas oleh Ferdinand de saussure dan Cassirer. Bahasa menunjukkan hakikat ada secara ontologis dan merupakan wujud penampakan manusia secara eksistensial. Bahasa ada karena bahasa itu sendiri, bukan karena adanya manusia.
Gadamer menegaskan, jika bahasa dikatakan sebagai alat, maka akan ada ketakterhubungan bahasa dan pikiran. Kata yang digunakan seperti ini hanya berfungsi sebagai alat untuk menunjukkan sesuatu, berfungsi sebagai tanda yang menandai sesuatu. Kata hanya bermakna tunggal, hal ini menandai pemahaman kata sebagai data yang empiris. Sebaliknya bahasa bukanlah merupakan alat subjek untuk mengungkapkan pikirannya, karena konsekwensinya akan terdapat pemisahan antara realitas dengan pengertian. Menurut Gadamer, manusia tidak menciptakan kata-kata dan tidak memberikan artinya, dalam hal ini ada kesalahan dalam teori linguistik, karena kata yanbg digunakan adalah mengungkapkan realitas. Bahasa adalah milik realitas. Bahasa tidak disebabkan oleh keberadaan manusia. Jadi dapat dimengerti bahwa bahasa menurut Gadamer dibentuk oleh realitas. Bahasa merupakan proses pengejawantahan terhadap realitas, dan manusia hanya mengaktualisasikannya.
Lebih jauh Gadamer mengatakan bahwa objek benda-benda tidak bisa dipisahkan dari kata-kata bahasa. Pengalaman tidak dapat dimulai tanpa bahasa. Ketika ingin menunjukkan kesesuaian bahasa dengan pengalaman yang kita alami, bukan berarti kita mencari sistem tanda yang akan menunjukkan dengan pasti makna bahasa terhadap pengalaman tersebut. Bahasa yang dihadirkan belumlah menggambarkan realitas secara lengkap, karena memang pengalaman tersebut belum menunjukkan kebenaran secara penuh ke dalam bahasa yang dipergunakan. Gadamer pun mengakui bahwa ada keterkaitan erat antara objek dengan kata, sehingga kata yang digunakan sebenarnya mencari sesuatu padanan erat yang melekat dengan objek yang digambarkan. Begitu pula dengan eratnya kaitan antara bahasa dan pemikiran, yang beurpa satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Jurgen Habermas
Hermeneutika bertujuan untuk memahami proses pemahaman – understanding the process of understanding. Pemahaman adalah suatu kegiatan pengalaman dan pnegertian teoritis berpadu menjadi satu. Tidak mungkin dapat memahami sepenuhnya makna sesuatu fakta, sebab selalu ada juga fakta yang tidak dapat diinterpretasikan. Bahasa sebagai unsur fundamental dalam hermeneutika. Sebab, analisis suatu fakta dilakukan melalui hubungan simbol-simbol dan simbol-simbol tersebut sebagai simbol dari fakta.
Peranan Bahasa Dalam Pemahaman
Jurgen Habermas, berdasarkan pemikirannya tentang hermeneutika dan bahasa ia membedakan antara penjelasan dan pemahaman. Habermas menekankan bahwa kita tidak dapat memahami sepenuhnya makna suatu fakta, sebab ada juga fakta yang tidak dapat diinterpretasi.
Peranan Bahasa Dalam Hermeneutika
Hermeneutika kritis, menyebutkan bahwa pemahaman didahului oleh kepentingan. Yang menentukan horison pemahaman adalah kepentingan sosial yang melibatkan kepentingan kekuasaan interpreter. Setiap bentuk penafsiran dipastikan ada bias dan unsur kepentingan politik, ekonomi, sosial, suku, dan gender.
Di dalam teks tersimpan kepentingan pengguna teks. Karena itu, selain horizon penafsir, teks harus ditempatkan dalam ranah yang harus dicurigai. Menurut Habermas, teks bukanlah media netral, melainkan media dominasi. Karena itu, ia harus selalu dicurigai. Bagi Habermas pemahaman didahului oleh kepentingan. Yang menentukan horizon pemahaman adalah kepentingan sosial (social interest) yang melibatkan kepentingan kekuasaan (power interest) sang interpereter.
Hubungan Antara Bahasa, Pengalaman, dan Tindakan
Menurut Jurgen Habermas pemahaman hermeneutik pada dasarnya membutuhkan dialog, sebab proses memahami adalah proses kerja sama dimana pesertanya saling menggabungkan diri satu dengan yang lainnya secara serentak dalam dunia kehidupan yang terdiri dari tiga aspek, yaitu dunia objektif, dunia sosial, dan dunia subjektif. Dunia objektif adalah totalitas semua entitas atau kebenaran yang memungkinkan terbentuknya pernyataan-pernyataan yang benar. Jadi realitas yang memungkinkan kita berpikir secara benar tentang semua hal, termasuk manusia dan binatang. Dunia sosial adalah totalitas semua hubungan interpersonal atau antarpribadi yang dianggap sah dan teratur. Dunia subjektif adalah totalitas pengalaman subjek pembicara atau sering juga disebut ”duniaku sendiri” atau ”pengalamanku sendiri”. Jika dihubungkan dengan empat konsep tentang  tindakan, maka pemahaman menjadi sangat eksprensial, yaitu:
1.        Dalam hubungannya dengan tindakan teologis, pemahaman menggambarkan tujuan, yaitu bahwa setiap tindakan manusia mempunyai tujuannya sendiri.
2.        Dalam hubungannya dengan tindakan normatif, pemahaman menandai hal-hal yang bersifat normatif, seperti pengendara menghentikan kendaraannya pada saat traffic light menunjukan warna merah.
3.        Dalam hubungannya dengan tindakan dramaturgik, pemahaman dapat ditunjukan dengan cara misalnya ”kita berpura-pura melakukan sesuatu tindakan yang lain pada saat kita secara tiba-tiba berpapasan dengan orang yang tidak kita sukai.
4.        indakan komunikasi, Habermas hendak menunjukkan kemampuan manusia untuk melakukan pencerahan diri lewat proses komunikasi. Melalui kegiatan komunikasi, manusia dapat saling memahami dan membebaskan. Komunikasi akan menghasilkan konsensus-konsensus yang secara sadar dicapai oleh partisipan komunikasi tidak mengandung penindasan. Komunikasi juga dapat menyadarkan manusia modern dari penindasan pemilik modal buta. Melalui komunikasi, pencerahan dan pembebasan manusia dapat dicapai.


























G. Paul Ricoeur
       (Menurut Paul Ricoeur, hermenuetika adalah teori cara menggunakan pemahaman dalam hubungan dengan interpretasi suatu teks. Sedangkan teks adalah suatu karya tulis dengan struktur yang menyeluruh. Karya tulis yang dimaksudkan bias dalam bentuk karya sastra misalnya novel, puisi, ataupun drama)
Adalah seorang filsuf dari Prancis kelahiran tahun 1913. Ricoeur banyak mempelajari karya filsuf – filsuf besar seperti Husserl, Heiddegger, Jaspers dan filsafat analika bahasa seperti karya Wittgenstein, Austin, Searles dan tokoh filsafat lainnya. Kemudian Ricoeur mengembangkan dan berminat pada filsafat bahasa yang ada hubungannya dengan hermeneutika.
1.      Pemikiran Filosofis
Dalam pemikiran ini Ricoeur berupaya untuk mencari makna yang tersembunyi dalam symbol- symbol dalam perspektif yang lebih luas. Tujuannya adalah memperkaya pengetahuannya dengan mengembangkan hermeneutika pada teks.
Menurut Ricoeur setiap interprestasi adalah usaha untuk “membongkar” makna yang terkandung dalam kesusastraan. Ricoeur mengungkapkan bahwa kata merupakan symbol kesusastraan dengan hermeneutika.
2.      Makna Bahasa dalam Hermeneutika
Hakekat bahasa adalah suatu system symbol yang terdiri atas unsur – unsur. Menurut Ricoeur sasaran dari berbagai hermeneutika adalah “perjuangan melawan distansi cultural” dan dia memperluas pengertiannya dalam sebuah teks.

3.      Peranan Bahasa dalam Pemahaman
Dalam proses hermeneutika harus dibedakan antara pemahaman, penjelasan, dan interprestasi. Namun setiap interpreter juga berbicara tentang sirkularitas ketiga hal tersebut.
Menurut Ricoeur ada 3 langkah pemahaman:
1.      penghayatan langsung dari symbol – symbol (bahasa)
2.      pemberian makna terhadap symbol – symbol
3.      berpikir filosofis
contoh: Lambang negara Indonesia berupa seekor Burung Garuda berwarna emas yang berkalungkan perisai yang di dalamnya bergambar simbol-simbol Pancasila, dan mencengkeram seutas pita putih yang bertuliskan "BHINNEKA TUNGGAL IKA". Sesuai dengan desainnya, lambang tersebut bernama resmi Garuda Pancasila. Garuda merupakan nama burung itu sendiri, sedangkan Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang disimbolkan dalam gambar-gambar di dalam perisai yang dikalungkan itu. Nama resmi Garuda Pancasila yang tercantum dalam Pasal 36A, UUD 1945.

H. Jacques Derrida
Adalah seorang Filsuf dari Prancis kelahiran tahun 1930. Selain itu dia juga seorang dosen tetap di Ecole Normale Superieur (lembaga pendidikan tempat dia belajar) Derrida dikelompokan sebagai salah saru penulis hermaneutika karna karya beliau berhubungan dengan bahasa dan makna.
1.    Pemikiran Filosofis
Pemikiran Derrida sangat dipengaruhi oleh dua aliran filsafat yakni fenomenologi (ilmu pengalaman) dan strukturalisme.

2.    Pemikiran Filsafat Bahasa
Menurut Derrida tentang “kehadiran” akan jelas bila kita mempelajari metafisika mengenai tanda. Dalam metafisika tanda mengandung atau mewakilkan sesuatu yang tidak hadir.
4.      Hakikat Bahasa
Derrida membedakan antara “tanda” dengn “symbol” yang merupakan masalah filosofis dalam bahasa. Menurut Derrida setiap tanda bersifat manasuka (arbiter)dan tidak sesuai kodrat sebenarnya.
Pandangan Derrida adalah “tulisan mendahului ucapan”. Bagi metafisika bahasa logologi yang kemudian dia ubah menjadi gramatologi

5.        Bahasa dalam Proses Hermeneutika
Derrida mengatakan  bahwa bahasa adalah intensionalitas dengan menunjukan perbedaan antara “noesis’ (pikiran) dengan “noema” (yang dipikirkan. Contoh: seseorang melihat sebuah pohon ( tukang kayu vs pematung vs orang sedang pacaran)

6.        Makna Bahasa
       Dalam makna bahasa Derrida memandang secara ontologis bahwa tulisan mendahului ucapan. Seperti yang kita ketahui dalam linguistic bahwa bahasa adalah system tanda yang bermakna. Sehingga menurut struktualisme hakekat bahasa adalah struktur dan makna.

NB: Kattsoff (1963) di dalam bukunya Elements of Philosophy  "filsafat" adalah:
Filsafat adalah berpikir secara kritis dan berpikir dalam bentuk sistematis serta berpikir secara rasional.
Filsafat harus menghasilkan sesuatu yang runtut dan bersifat komprehensif.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home